Month: February 2019

Perancis Diperkuat Oleh Pemain Keturunan Seperti Zinadine Zidane

Posted on February 6, 2019 in Lain Lain

Tiga bulan sebelum Perancis menghelat Piala Dunia 1998, kondisi sosial-politik di Perancis sedikit terganggu seiring naiknya popularitas partai politik sayap kanan, Front Nasional, yang dipimpin sang Jean-Marie Le Pen. Front Nasional meraup bunyi sebanyak 15 persen pada pemilihan umum regional yg diadakan pada Perancis, Maret 1998. Menjadikannya partai politik paling terkenal ketiga di Perancis kala itu. Naiknya popularitas Front Nasional menjadi ancaman bagi keberagaman etnis warga Perancis, mengingat partai tersebut kental dengan sentimen anti-imigran ketika itu. Hal yg dikhawatirkan tadi kemudian menemukan bentuknya saat Piala Dunia dimulai pada Juni 1998. Tim Nasional Perancis yg diperkuat sang beberapa pemain keturunan seperti Zinadine Zidane, Lilian Thuram, Marcel Desailly, sampai David Trezeguet, menjadi sasaran empuk Le Pen bersama partainya buat melancarkan manuver. Le Pen menyebut para pemain keturunan itu sebagai “orang lain”, bukan “orisinil” Perancis.

“Akan menjadi sedikit artifisial ketika membawa pemain berdasarkan luar negeri tetapi menyebutnya sebagai Tim Perancis,” ujar Le Pen dikutip menurut Bandar Bola Bonus Besar. Tidak hanya itu, waktu terdapat beberapa pemain keturunan Perancis yg dipercaya tidak bersemangat pada menyanyikan lagu kebangsaan Perancis, Le Pen eksklusif menuduhnya menjadi pemain yang nir nasionalis. “Jean-Marie Le Pen mengungkapkan selama Piala Dunia bahwa dia nir mengenal Tim Nasional Perancis yang sekarang, hanya karena terlalu banyak pemain berkulit hitam di pada tim,” ujar Emmanuel Petit pada FourFourTwo. “Ia (Le Pen) menyerang pemain berkulit hitam & menuduh mereka tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan. Memang beberapa menurut kami menyanyikan, ad interim beberapa yang lain nir ikut menyanyikan,” kentara Marcel Desailly. “Namun itu tidak terdapat hubungannya sama sekali dengan berasal-usul kami. Aku pikir beliau hanya memanfaatkan kami buat kepentingan politiknya.”

Alih-alih mendapat dukungan penuh saat berkompetisi pada tempat tinggal sendiri, skuat Perancis malah mendapat rintangan dengan adanya kejadian-peristiwa tadi. Akan namun berkat kuatnya kebersamaan yg melampaui segala disparitas pada pada tim, Les Blues mampu membuktikan sanggup berbicara banyak pada Piala Dunia 1998 menggunakan menembus babak semifinal (akhirnya mereka juara). Ini pencapaian yg menggembirakan lantaran pada dua edisi Piala Dunia sebelumnya, Perancis absen dari Piala Dunia. Di babak semifinal Perancis bertemu versus yg berat: Kroasia. Saat itu, Kroasia sedang cantik-bagusnya karena diperkuat oleh beberapa pemain berkualitas seperti Davor Suker, Zvonimir Boban, Slaven Bilic, hingga Dario Simic. Satu generasi emas sedang dimiliki sang Kroasia kala itu. Perancis memulai babak pertama dengan kesulitan membongkar pertahanan Kroasia. Alih-alih membaik, segalanya justru menjadi tidak baik saat memasuki babak ke 2. Penyerang andalan Kroasia, Davor Suker, sukses menjebol gawang Fabian Barthez dalam menit ke-46.

Tetapi hanya berselang satu mnt berdasarkan gol Suker, Perancis berhasil membalas lewat keliru satu pemain berkulit hitam mereka: Lilian Thuram. Gol kedua yg memenangkan Perancis pada pertandingan malam itu lalu segera menyusul pada mnt ke-70. Thuram lagi-lagi menjadi pelakunya. Berkat dua gol yg disumbangkannya, Perancis melenggang ke final Piala Dunia buat kali pertama. Lewat 2 golnya itu, Thuram berhasil menandakan dirinya kepada lingkungan yang kerap mendiskriminasinya hanya lantaran disparitas rona kulit. “Itu [gol Thuram] adalah momen yang fantastis,” ujar Zidane. “Kami berkata, ‘Thuram untuk Presiden!’ sesudah pertandingan terselesaikan. Di babak final, Perancis sukses mengalahkan Brasil. Les Bleus merengkuh trofi Piala Dunia pertama mereka.

Jangan Anggap Enteng Kroasia

Posted on February 6, 2019 in Lain Lain

Kroasia melenggang ke babak final Piala Dunia 2018 setelah Luka Modric & kawan-kawan sukses mengalahkan Inggris di babak semifinal dengan skor 2-1 dalam Kamis (12/7). Bagi Kroasia, kemenangan tadi seperti penunjukan kualitas diri. Menurut Modric, sikap dari sekelompok wartawan, pengamat, dan pendukung Inggris yg menanggap remeh Kroasia sebelum hari pertandingan telah memicu semangat juang Kroasia buat membuktikan bahwa mereka tidak sanggup dianggap enteng. “Banyak orang, jurnalis Inggris, sampai pengamat pada televisi yg menduga remeh Kroasia buat pertandingan malam ini. Itu adalah sebuah kesalahan akbar,” ujar Modric selepas laga. “Namun seluruh perkataan mereka kami terima, & kami menyampaikan: ‘Baiklah, kita lihat siapa yang akan kelelahan malam ini.’ Mereka [Inggris] perlu lebih rendah hati pada bersikap & menghormati lawannya.”

Sebelum bertanding melawan Inggris, beberapa pemain utama Kroasia seperti Luka Modric & Ivan Perisic sempat diberitakan mengalami kelelahan. Penyebabnya merupakan karena dua pemain tersebut selalu diturunkan sejak berlaga pada fase kelompok sampai perempatfinal sang Kroasia. Akan namun seluruh itu tak terbukti pada hari pertandingan. Para pemain Kroasia justru tampil militan. Ivan Perisic bahkan mampu menyumbangkan satu gol dan satu asis buat Kroasia. “Kami menunjukkan bahwa kami tidak kelelahan. Kami berhasil mendominasi permainan baik secara mental juga fisik,” tambah Modric pada Bandar Judi Bola Online. Apa yg dikatakan Modric bukan bualan. Sepanjang laga, Kroasia memang tampil lebih lebih banyak didominasi dibandingkan Inggris. Kroasia menguasai bola sebesar 55 %, berbanding Inggris yang 45 %. Kroasia jua lebih seringkali melakukan percobaan tembakan dengan 22 kali percobaan, berbanding Inggris yg 11 kali. Jumlah tembakan menunjuk ke gawang Kroasia adalah 7 kali, Inggris 2 kali. Jumlah sepak pojok Kroasia adalah 8 kali, Inggris 4 kali.

Salah satu pencetak gol Kroasia, Ivan Perisic, mengaku bahwa keberhasilannya membukukan gol yg mengantarkan Kroasia ke final Piala Dunia tidak ubahnya seperti mimpi. Dua puluh tahun lalu waktu Kroasia tampil di semifinal Piala Dunia 1998, beliau masih sebagai suporter muda Kroasia. “Dua puluh tahun kemudian, aku pulang ke rumah pada kampung halamanku dan saya mendukung Kroasia menggunakan memakai kaus tim nasional. Sebelumnya aku hanya sanggup bermimpi buat membela Kroasia dan mencetak gol krusial yg mengantarkan ke final Piala Dunia,” ungkapnya kepada The Guardian. Kroasia sempat dikejutkan dengan gol cepat Inggris dalam mnt ke-lima. Kieran Trippier sukses mengonversi hibah tendangan bebas yang didapat The Three Lions sebagai sebuah gol.

Kroasia baru sanggup menyamakan kedudukan dalam mnt ke-68. Bola output umpan Sime Vrsaljko menurut sisi kanan, sukses disambar oleh Ivan Perisic. Bola sontekan Perisic gagal dihalau sang Jordan Pickford. Kedudukan imbang bertahan sampai babak kedua berakhir. Di masa perpanjangan ketika, Kroasia berhasil mencetak gol kemenangan pada mnt ke-109. Umpan menurut Ivan Perisic berhasil diselesaikan dengan baik oleh Mario Mandzukic. Gol itulah yang melenggangkan Kroasia ke final Piala Dunia buat kali pertama sepanjang sejarah mereka. “Kami pantas melenggang ke final. Apa yg ditampilkan sang para pemain hari ini seperti sebuah fantasi. Mereka sudah menciptakan sejarah,” tutup instruktur Kroasia, Zlatko Dalic.

Jalan Panjang dan Libur Pendek Benjamin Pavard

Posted on February 5, 2019 in Lain Lain

situs judi bola online – Benjamin Pavard menempuh jalan yang panjang untuk menjadi seperti sekarang. Begitu pula bersama dengan ke dua orang tuanya, Nathalie dan Frederic Pavard. Tidak seluruh perihal ada untuk seorang anak tunggal berasal dari Jeumont, sebuah kota kecil di Perancis anggota utara yang berbatasan langsung bersama dengan Belgia. Pavard kecil tidak berlama-lama berlatih di Jeumont. Pada umur 9 dia bergabung bersama dengan Lille OSC. Empat kali sepekan Nathalie dan Frederic mengantar Pavard berlatih, menempuh jarak lebih berasal dari 96 km pulang-pergi. Setahun saja kegiatan itu dilakukan, gara-gara terhadap umur 10 Pavard meninggalkan rumah untuk tinggal di asrama pemain muda Lille.

“Target pertamaku adalah sebabkan ayah dan ibuku bangga,” ujar Pavard sebagaimana dikutip berasal dari laman situs Bundesliga. “Kami menekuni masa sulit. Aku meninggalkan mereka di umur 10 untuk tinggal di asrama sekolah sepakbola Lille. Itu sukar tidak cuma untukku, namun terhitung untuk orang tuaku, gara-gara saya anak mereka satu-satunya.” Perkembangan Pavard tak begitu pesat. Bahkan di tim muda Lille dia tak banyak mendapat kesempatan. Begitu musim 2013/14 berakhir Pavard pulang ke Jeumont. Sementara para pemain top berlibur di tempat eksotis atau repot bertanding di Piala Dunia 2014, Pavard berlatih keras. Aku di titik rendah,” ujar Pavard kepada BILD. “Aku hampir tidak bermain di musim pada mulanya di tim muda Lille, menjadi saya memastikan untuk melakukan perbaikan diri. Aku mendapatkan seorang pelatih kesehatan dan bekas pelatihku selagi tetap kanak-kanak melatihku, dia mengubahku berasal dari seorang gelandang menjadi bek tengah.”

Kerja kerasnya di masa libur menghasilkan hasil. Memasuki paruh ke dua musim 2014/15, tepatnya terhadap 31 Januari 2015, Pavard menekuni debutnya di Ligue 1. Namun diberi peluang menekuni debut adalah satu hal, konsisten menerus dipercaya bermain adalah perihal lain. Di Tim Nasional Perancis U-19 serupa saja, meskipun selagi peluang bermain diberikan Pavard tidak mengecewakan. Dia bermain bersama dengan putraku [Marcus Thuram] di Piala Eropa U-19 2015 dan saya lihat pertandingan-pertandingannya,” ujar Lilian Thuram kepada AFP. “Bahkan terhadap selagi itu dia sudah muncul menjanjikan. Untuk pemain seusianya dia terlampau cerdas dan terlampau teknis. Pavard naik ke tim U-21 setelahnya, namun sampai situ saja. Saat Perancis melenggang sampai ke final di Piala Eropa 2006 Pavard tetap tidak masuk ke radar Didier Deschamps. Pada gelaran itu Pavard cuma penonton, seperti biasanya warga Perancis lain.

Penyebabnya adalah karier yang begitu-begitu saja di Lille. Lebih berasal dari setahun sejak debutnya untuk tim senior, Pavard tetap belum menjadi pilihan utama. Namun ini bukan seluruhnya tidak benar sang pemain. Aku tidak pernah mendengar perihal Benjamin sebelum akan Stuttgart merasa mengamatinya, apa ulang tahu pemain seperti apa dirinya,” tulis Thomas Hitzlsperger, kepala tim muda Stuttgart, di dalam kolomnya di Guardian. “Namun seseorang menyebutkan kepadaku ada seorang pemain belakang muda yang kesulitan mendapat peluang di Lille dan menganjurkan kami untuk meliriknya. Lalu saya lihat beberapa video, bahagia bersama dengan apa yang kulihat, dan menghubungi seorang jurnalis yang mengkaver Ligue 1 dan menghendaki sarannya.